Mari, mengenal lebih dekat budaya khas Yogyakarta

Artikel seni
Kesenian Khas Yogyakarta

            Kesenian-kesenian daerah yang ada di Indonesia sangatlah banyak. Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki kesenian yang khas. Tetapi, banyak pula kesenian yang sudah mulai hilang karena kurangnya kesadaran masyarakat setempat tentang cara melestarikan kesenian daerah itu sendiri. Ada pula daerah yang kesenian dan adat istiadatnya masih kental, seperti yogyakarta.
            Yogyakarta adalah daerah yang dipimpin oleh seorang sultan yang masih memegang teguh adat istiadat dan semua kesenian yang ada di Yogyakarta. Daerah ini adalah salah satu daerah yang memiliki berbagai kesenian dan  adat yang beragam, unik, dan menarik. Kita akan membahas beberapa adat istiadat dan kesenian yang ada di Yogyakarta:

a.      Upacara sekaten

Upacara sekaten adalah suatu ritual atau adat yang dilaksanakan rutin di setiap tahunnya. Acara ini dilaksanakan selama 7 hari setiap tanggal 5 dan berakhir pada tanggal 12 Mulud. Upacara ini diadakan bertujuan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Upacara ini biasanya sekaligus menyelenggarakan sebuah tempat bermain yang berisi berbagai wahana serta pasar malam di Alun-alun Utara.

Upacara sekaten ini mulai masuk ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada pertengahan abad ke-17. Pada awalnya upacara ini diselenggarakan sebagai upaya untuk memantapkan syiar agama Islam. Seiring dengan berjalannya waktu, dalam setiap tahunnya makin banyak orang yang datang untuk ikut memperingatinya. Semakin banyak pedaganng dan masyarakat yang antusias untuk meramaikan dan memperingati upacara sekaten sehingga upacara ini tetap ada hingga saat ini.
Upacara sekaten identik degan tabuhan gamelan yang menjadi slaah satu rangkaian acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kata sekaten  sendiri berasal dari kata sekati, yaitu nama dari dua perangkat gamelan pusaka Kraton Yogyakarta yang bernama Kanjeng Kyai Sekati.

Prosesi upacara sekaten ini lumayan panjang yaitu pada malam hari diawali dengan iring-iringan abdi dalem bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendapa Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Gamelan Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari Masjid Agung, sementara gameln Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud, selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton.

Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 dan 2 hari sebelum diadakannya grebek mauludan suatu upacara Numplak Wajik yang diadakan di halaman istana Magangan pada jam 16.00. 

b.      Kesenian gamelan


Keraton Yogyakarta memiliki berbagai benda pusaka, salah satunya berupa alat musik gamelan. Gamelan merupakan seperangkat ansambel tradisional Jawa, yang memiliki tangga nada pentatonis dalam sistem tangga nada slendro dan pelog.
                                                                                               
Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Instrumen yang dimainkan dalam seperangkat gamelan antaralain kendangbonangpanerusgender,gambang, suling, siter, clempung, slenthem, demung,saron, kenong, kethuk, japan, kempyang, kempul, dan peking.

Keraton Yogyakarta memiliki sekitar 21 perangkat gamelan yang dikelompokkan menjadi dua, yakni Gangsa Pakurmatan dan Gangsa Ageng.
·         Gangsa Pakurmatan 
dimainkan untuk mengiringi Hajad Dalem atau upacara adat keraton. Gangsa Pakurmatan terdiri dari Kanjeng Kiai Guntur LautKanjeng Kiai Kebo GanggangKanjeng Kiai Guntur MaduKanjeng Kiai Nagawilaga, dan Gangsa Carabalen.
·         Gangsa Ageng 
Setiap hari Jumat, salah satu dari gamelan ini akan dibersihkan dan diperiksa secara bergilir oleh Abdi Dalem Kanca GendhingHingga saat ini, di tengah perkembangan alat-alat musik modern, gamelan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Keraton Yogyakarta. Perpaduan sempurna antara denting lembut dan dentum megah yang dihasilkan oleh logam perunggu bermutu prima itu selalu menjiwai setiap upacara kerajaan dan memberi warna pada setiap pergelaran seni budaya di Keraton Yogyakarta
dimainkan sebagai pengiring pergelaran seni budaya keraton. Selain itu, Gangsa Ageng memiliki instrumen lebih lengkap dibanding Gangsa Pakurmatan. Gangsa Ageng terdiri atas Kanjeng Kiai Surak, Kanjeng Kiai Kancil Belik, Kanjeng Kiai Guntur Sari, Kanjeng Kiai Marikangen, Kanjeng Kiai Panji dan Kanjeng Kiai Pusparana, Kanjeng Kiai Madukintir dan Kanjeng Kiai Siratmadu, Kanjeng Kiai Medharsih dan Kanjeng Kiai Mikatsih, Kanjeng Kiai Harjanagara dan Kanjeng Kiai Harjamulya, Kanjeng Kiai Madumurti dan Kanjeng Kiai Madu Kusumo, Kanjeng Kiai Sangumulya dan Kanjeng Kiai Sangumukti.

Setiap hari Jumat, salah satu dari gamelan ini akan dibersihkan dan diperiksa secara bergilir oleh Abdi Dalem Kanca GendhingHingga saat ini, di tengah perkembangan alat-alat musik modern, gamelan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Keraton Yogyakarta. Perpaduan sempurna antara denting lembut dan dentum megah yang dihasilkan oleh logam perunggu bermutu prima itu selalu menjiwai setiap upacara kerajaan dan memberi warna pada setiap pergelaran seni budaya di Keraton Yogyakarta.



c. jathilan

Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh Masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang. Terdapat kata “kuda” disetiap nama lainnya karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Jathilan berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan ”.  

Pementasan tari jathilan ini memiliki dua tujuan, yang pertama yaitu sebagai sarana menghibur rakyat dan  dimanfaatkan sebagai media guna membangkitkan semangat rakyat dalam melawan penjajah.

Gerakan jathilan pada mulanya si penari nampak lemah gemulai dalam menggerakkan badan, namun seiring waktu berjalan, para penari menjadi kerasukan roh halus, dimana kondisi kerasukan ini dalam bahasa Jawa sering dikatakan dengan istilah “ndadi”  Karena kerasukan, maka para penari jatilan hampir tidak sadar terhadap apa yang diperbuatnya.    Gerakan tariannyapun mulai tak teratur, pada kondisi inilah kata jathilan itu tergambar, jaranne jan thil-thilan tenan (kudanya benar-benar berjoget tak beraturan).
Itu adalah beberapa kesenian dan adat yang ada di Yogyakarta. Sebenarnya masih banyak kesenian yang berkembang di Yogyakarta dan kita perlu melestarikan semua kesenian itu.







Sumber gambar
Sumber: arenawisata.co.id
Sumber: hipwee.com
Sumber: spotunik.com
Sumber: paketwisatajogja75.com
Sumber: rininrhyti.wordpress.com



Sumber artikel





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Cara Membuat Kartun Anime

Cara Bermain Drum Untuk Pemula (1 Jam Langsung Bisa)

SI PELUKIS TAWA